Bacaan Hari ini:
2Tes.2:1-30a.13b-17
Mzm.96:10.11-12a.12b-13
Mat.23:23-26
\
“Celakah kamu hai kamu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dan selasih, adas manis dan jintan kamu bayar tetapi yang terpenting dalam Hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belaskasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”
Matius 23:23
Saudara-saudari terkasih,
Tuhan sedang mengingatkan para pendengarnya untuk tidak mengikuti gaya hidup orang-orang munafik ini. Dalam kehidupan beragama, penting bahwa mereka menaati apa yang diwajibkan oleh agama, seperti membawa persembahan, menyumbangkan 10 % dari penghasilan mereka dan menyisihkan sejumlah hasil panen mereka. Itu semua sudah dicontohkan oleh orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi mereka tidak memiliki rasa keadilan, belaskasihan dan kesetiaan. Mereka mengutamakan apa yang dituntut oleh perintah-perintah Hukum Taurat yang dapat dilihat oleh orang banyak. Dengan melakukan hal-hal itu mereka dihormati dan disebut sebagai orang-orang yang baik.
Saudara-saudari terkasih,
Masih ingatkah kita pada perumpamaan Tuhan Yesus “orang Samaria” yang baik hati? Tuhan Yesus menampilkan tiga orang sosok dalam peristiwa berkaitan dengan “orang yang dirampok dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Dikisahkan ada seorang yang dirampok dan dia sangat menderita karena dianiaya dan mengalami luka-luka. Lalu Tuhan Yesus mengatakan bahwa ada seorang imam yang lewat dan melalui tempat orang yang dirampok itu. Imam itu melewati dari seberang dan tidak mendekati orang yang dirampok itu; mungkin ia takut najis oleh darahnya, sebab dia baru saja kembali dari ibadat di Yerusalem. Jadi ia tidak mempedulikannya. Juga ada seorang Lewi yang juga melalui jalan yang sama. Orang ini juga baru saja pulang dari Bait Suci di Yerusalem. Dia juga melewati tempat di mana orang itu dirampok dan tidak melakukan apa-apa. Orang Yahudi yang taat ini tidak mau ibadatnya di Yerusalem akan batal karena menolong orang yang terluka dan lemah itu. Akhirnya datang juga seorang Samaria, melewati tempat yang sama; orang ini menaruh belaskasihan kepadanya dan peduli. Bukan hanya itu, ia langsung bertindak. Ia mendekati orang yang dirampok itu, merawatnya dan selanjutnya membawanya ke tempat penginapan agar mendapat perawatan. Bahkan ia berpesan, “apa pun yang diperlukan untuk menyelamatkan” orang itu harus dilakukan dan ia akan bertanggungjawab atas seluruh pembiayaannya setelah ia kembali dari perjalanannya. Tetapi Orang Samaria tidak dianggap sesama oleh mereka.
Saudara-saudari terkasih,
Perumpamaan ini membuka mata kita akan firman Tuhan Yesus hari ini: bahwa kewajiban keagamaan di dalam Bait Allah memang harus ditaati, namun yang terpenting adalah melakukan keadilan, belaskasihan dan kesetiaan untuk sesama manusia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, yang adalah kaum imam dan Lewi, tidak mau tercemar baktinya kepada Yahweh karena bisa dinajiskan kalau menolong orang yang terluka. Tidak demikian dengan orang Samaria: baginya yang terpenting menyelamat nyawa orang, bukan kepentingan dirinya sendiri. Firman Tuhan ini yang harus kita camkan: “Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Kita dingatkan untuk menyembah Tuhan dan memuliakannya di gereja, tetapi kita juga harus berbuat kasih untuk Tuhan yang perlu ditolong dalam diri sesama kita yang menderita.
REFLEKSI:
Apakah aku sudah melakukan kewajiban agamaku dan mengasihi sesamaku juga?
MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, ampunilah kami, bila kami tidak setia dan berlaku adil dengan mengabaikan kasih kepada sesama yang menderita. Berilah kami ketaatan untuk melakukan kewajiban kami untuk menyembahMu, tetapi mampukan kami juta untuk berlaku adil dan berbuat kasih untuk sesama kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.