Broadcast
Atas Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus

JANGAN HIDUP DALAM KEPURA-PURA-AN

BC - 12439G | Wednesday, 26 August 2026

Bacaan Hari ini:
2Tes..3:6-10.16-18
Mzm.128:1-2.4-5
Mat.23:27-32

“Celakalah kamu hai kamu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya bersih tampaknya, tetapi sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”
Matius 23:27

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Hari ini kita masih mendengarkan “kecaman” Tuhan Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang disebutnya sebagai orang munafik. Dalam Bahasa alkitabiah, kemunafikan tidak saja dimaksudkan perkataan dan tindakan seseorang tidak cocok, melainkan lebih dari pada itu, dikatakan bahwa “Orang munafik adalah manusia yang dengan mudah menjadi tidak setia, dan kadang-kadang menjadi buta” Dalam Matius 7:5 dikatakan : “Hai orang munafik. Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu!” Jadi point-nya adalah “tidak ada kesetiaan” yang diakibatkan “hati yang dibutakan” oleh pemikirannya sendiri. Dia sudah merasa diri paling benar, dan apa pun yang dilakukannya tidak dapat disalahkan. Mereka sudah merasa hebat dan paling benar.

Saudara-saudari terkasih,
Perhatikanlah firman Yesus yang keras ini: “Celakalah kamu hai kamu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya bersih tampaknya, tetapi sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” Mereka sudah merasa aman dan nyaman dengan cara hidupnya yang dianggapnya paling sesuai dengan apa yang dituntut dan diwajibkan oleh perintah-perintah Hukum Taurat. Mereka sudah merasa bersih, suci dan benar; mereka terlihat seperti kuburan yang “pada masa itu” dilabur putih; bersih dan sedap dipandang mata. Tetapi mata mereka dibutakan, sebab tidak menyadari dalam makam itu ada tulang belulang dan kebusukan. Mereka menyembunyikan kekurangan dan kelemahan dalam hati mereka yang tidak tampak.

 Saudara-saudari terkasih,
Gaya hidup, penampilan yang serasi, menjadi salah satu tuntutan masa kini. Para pesohor, para artis, para pejabat pemerintah, para petinggi perusahaan dan bahkan keluarga-keluarga yang dianggap “berkecukupan”, mereka menganggap penampilan adalan sesuatu yang “harus” diperhatikan. Datang ke perjamuan nikah misalnya, mereka mengenakan pakaian yang “serasi” dan “berpadanan”, baik motif maupun warna busana mereka. Ke gereja, ayah dan ibu serta anak-anak mengenakan baju yang senada dan sedap dilihat serta menyatakan “kekompakkan” mereka. Apakah itu penting? Tentu saja. Tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk menomorsatukan “penampilan” seperti itu? Mereka datang ke perjamuan nikah, ke gereja dengan busana yang rapih dan bersih, rasa-rasanya sudah cukup, betul? Yang penting “niatan hati” mereka: menghormati tuan pesta; “maksud hati mereka” untuk memuliakan Allah yang disembah dan hadir dalam perayaan Ekaristi; bukan untuk dilihat orang apalagi untuk dikagumi dan dipuja-puji. Betulkah pendapatku ini? Orang-orang munafik mengedepankan tampilan luar untuk menarik perhatian banyak orang; apakah mereka adalah seseorang yang “baik-baik saja” dalam rumah tangganya?, mereka sudah lupa. Apakah mereka sedang tersandung kasus korupsi atau perbuatan tidak adil? mereka tidak berkenan diketahui orang lain. Mereka buta pada dirinya, yang penting mereka terlihat “suci dan benar”, sekurang-kurangnya dari penampilannya itu.

Saudara-saudari terkasih,
Tuhan Yesus sedang mendidik para pendengarnya untuk tidak meniru cara hidup orang-orang munafik, yaitu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka  sudah merasa diri benar dan hebat; mereka merasa perlu diperhatikan dan dicontoh. Tuhan Yesus mau kita yang sekarang juga mendengarkan firmannya untuk “introspeksi” dan “berbenah diri”, mengevaluasi “apa yang ada di dalam hati kita”. Apakah Tuhan yang kita ijinkan menguasai hati kita? Atau kita hanya mencari pujian manusia kalau bisa disebut orang penting karena penampilan kita. Sekali lagi saya ingin mengutip perkataan ini: “baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang BAIK!” Tuhan Yesus sedang berusaha membebaskan kita dari kemunafikan yang membutakan hati dan pikiran kita. Tuhan mau kita memuliakan Dia dengan hati kita, bukan untuk mencari pujian mausia. Bapamu yang di sorga akan mengetahui engkau jujur atau munafik. Jelas!!!


REFLEKSI:
Apakah aku sudah memelihara hatiku kudus dan tak bercela untuk memuliakan Allah?

MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, terimakasih sudah menegor kami untuk tidak mencari pujian manusia, tetapi menyukakan hatimu, karena taat kepada firman Tuhan Yesus. Bantulah kami untuk menjadi murid Yesus yang setia. Sebab Dialah YesusTuhan  kami. Amin.