Bacaan Hari ini:
Gal.1:13-24
Mzm.139:1-3.13-14ab-15
Luk.10:38-42
Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
Lukas 10:41-42
† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus
Yesus mengajarkan umat Kristiani dengan peristiwa atau kejadian nyata yang dialami dan dilihat oleh mata manusia. Ajaran Yesus pada akhirnya mendorong setiap orang memilih. Artinya tidak ada paksaan dalam memilih dan melakukan suatu perbuatan tertentu. Dalam injil hari ini, Yesus mengajarkan kita tentang sikap manusia, bagaimana kita dapat memilih melalui kisah dua bersaudara, Marta dan Maria. Diceritakan bahwa ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Yesus di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Yesus di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan Yesus menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.
Saudara-saudari terkasih,
Tindakan Marta yang sibuk melayani Yesus, bukanlah sesuatu yang salah. Kita pasti akan melakukan hal yang sama, ketika ada tamu yang datang ke rumah kita. Apalagi yang datang bertamu ke rumah kita adalah orang yang terkenal, penguasa atau pejabat. Tentu saja ada perlakukan khusus dan istimewa yang akan kita berikan kepadanya. Demikian pula dengan Marta. Sebab saat itu, Yesus menjadi tokoh idola yang dipuja-puja dan diagung-agungkan. Dimana Tuhan Yesus datang, orang-orang akan datang berbondong-bondong untuk melihat dan mengalami kasih dan kuasa-Nya. Maka pada saat Yesus datang ke rumah mereka, Marta benar-benar memanfaatkan kesempatan yang jarang terjadi. Marta merasa bahwa Yesus layak diperlakukan dengan istimewa dengan menghidangkan makanan serta minuman yang terbaik. Marta juga melihat bahwa dia mungkin saja hanya sekali seumur hidupnya dapat menjamu Yesus, yang dalam waktu singkat mengerjakan banyak hal.
Saudara-saudari terkasih,
Tindakan Marta yang sibuk menyiapkan makanan dan minuman untuk Yesus merupakan pilihan yang wajar dan biasa dilakukan oleh semua manusia pada umumnya. Sebab kita tentu saja tidak mau dianggap tuan Rumah yang tidak menghormati tamu. Namun hal berbeda justru dilakukan Maria saudari Marta. Maria memilih untuk duduk dekat kaki Tuhan Yesus. Tindakan Maria ini bukan tanpa masalah. Pertama, dengan memilih duduk dekat kaki Tuhan Yesus, Maria membiarkan Marta saudarinya melayani Yesus seorang diri, sehingga membuat Marta jengkel. Kedua, sangat tidak biasa seorang perempuan menuntut ilmu kepada seorang rabbi, yakni guru Yahudi yang semuanya laki-laki. Artinya apa yang dilakukan oleh Maria sangat tidak sesuai dengan kebiasaan orang Israel pada umumnya. Dengan demikian Maria bisa saja mendapat hujatan, sebagai perempuan yang tidak tahu diri. Namun apa yang terjadi? Tindakan Marta yang kita anggap biasa dan layak, justru ditentang oleh Tuhan Yesus. Sementara tindakan Maria yang di luar kebiasaan, malahan dipuji dan diharga oleh Yesus sebagai tindakan serta pilihan yang sangat tepat.
Saudara-saudari terkasih,
Dari kisah Marta dan Maria, kita belajar beberapa hal. Pertama, tindakan yang kita anggap baik belum tentu baik untuk orang lain, apalagi untuk Allah. Sebab Allah tidak melihat apa yang kelihatan, tetapi melihat apa yang tidak kelihatan. Dalam kisah Marta dan Maria ini bisa saja terjadi bahwa tindakan Marta lebih didorong oleh keinginan untuk mendapatkan pujian maupun penghargaan, bahwa dia bisa memasak. Sementara tindakan Maria lebih beresiko. Namun Maria berani memilih dengan melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan. Oleh karena itu, hal kedua yang bisa kita teladani dari Maria adalah keberanian melakukan sesuatu yang berbeda. Kita sering kali melakukan sesuatu yang itu-itu saja, yang biasa dilakukan oleh orang lain. Kita lupa bahwa orang-orang yang sukses adalah mereka yang berani melakukan terobosan, melakukan sesuatu yang berbeda dari orang lain dan siap sedia untuk menanggung bahaya dari pilihan kita yang berbeda tersebut. Ketiga, menyangkut pilihan. Tidak semua peristiwa datang dua kali. Dan Maria tahu bahwa dia belum tentu bisa bertemu lagi dengan Yesus. Maka Maria memilih duduk dekat Yesus.
REFLEKSI:
Apakah selama ini kita menjadi Marta yang melakukan sesuatu yang biasa, ataukah menjadi Maria yang melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan?
MARILAH KITA BERDOA:
Tuhan Yesus Kristus, Engkau mencela tindakan Marta yang melakukan sesuatu yang biasa, sebaliknya Engkau memuji tindakan Maria yang berani melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan. Semoga rahmat-Mu menolong kami supaya mampu memilih apa yang terbaik bagi keselamatan kami. Doa ini kami persembahkan dalam nama Yesus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.