Bacaan Hari ini:
Gal.4:31b-5,6
Mzm.119:41.43,44,45,47,48
Luk.11:37-41
† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,Setiap hari gereja kudus dan katolik selalu merayakan Ekaristi suci di seluruh dunia. Pada hari ini bagian liturgy Sabda menghadirkan firman Yesus dari Lukas 11:37-41. Sertelah membaca dan mencermati serta masuk dalam maksud firman ini, saya menemukan “kekesalan” Tuhan terhadap sikap seorang Farisi yang mengundangnya untuk makan di rumahnya. Orang Farisi itu mengamati Yesus, dan ia menemukan Yesus tidak melakukan kebiasaan yang hidup di dalam masyarakat mereka, bahwa orang harus cuci tangan dulu sebelum makan. Hal itu pun masih menjadi kebiasaan masyarakat masa kini, Hal yang wajar-wajar saja. Namun tidak dengan keadaan saat itu. Yesus yang mereka anggap sebagai seorang pengajar, Dia tidak mencuci tanganNya sebelum makan. “Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Kamu orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.”Saudara-saudari terkasih,Apakah Tuhan Yesus tidak mau disalahkan karena tidak melakukan adat kebiasaan mereka, yaitu mencuci tangan sebelum makan? Yesus tidak punya keberatan tentang hal itu, namun Yesus balik menegur mereka. “Kamu ini, bisanya ngatain orang, tapi apa yang sudah kamu lakukan?” kira-kira begitu saya menangkap teguran Yesus. Orang Farisi ini lebih senang mengunggulkan dirinya dengan penampilannya yang “bersih, kinclong dan berwibawa” dengan tampilan mereka. Mereka itu dikatakan oleh Yesus seperti sebuah cawan atau pinggan yang tampak luarnya cantik dan bersih, tetapi dalamnya “kotor dan tidak terawat”. Persis seperti mereka yang “sok suci dan ingin dihormati” orang tetapi hati mereka penuh dengan kebusukan dan kebohongan. Saudara-saudari terkasih,Kalau saya perhatikan perkataan Yesus hari ini, sepertinya Yesus kecewa berat dan kesal sekali. Katanya lagi, sebelum orang Farisi itu sempat berreaksi: “Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar perpuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan!” Tuhan menegaskan bahwa hidup itu perlu keseimbangan antara hak dan kewajiban. Mereka diingatkan: lakukan kewajiban keagamaanmu seperti yang diperintahkan Musa, namun tidak boleh lalai untuk menegakkan “keadilan” dan menghadirkan “Kasih Allah”. Tuhan mencintai semua orang, bukan untuk mereka saja. Belum selesai sampai di situ, Tuhan Yesus masih berkata : “Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur, yang tidak memakai tanda, orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.” Teguran Yesus ini sungguh merupakan pukulan telak, sebab apa yang mereka lakukan ternyata sia-sia; jangankan dilihat Tuhan, dilirik orang saja tidak. Mereka seperti kuburan yang tanpa pengenal, diinjak orang yang lewat dan tidak dihargai kehadirannya, sebab mereka itu telah “mengubur” dirinya dengan kemunafikan yang mereka pertontonkan, agar dianggp baik, terhormat dan suci. Saudara-saudari terkasih,Tuhan Yesus “tidak suka” dengan orang-orang yang suka pamer kesalehan agar mendapat penghormatan dan pujian manusia. Apakah engkau pernah mendengar firman ini: “Apa yang disukai manusia, dibenci oleh Allah!” Kita diingatkan oleh Tuhan Yesus pada hari ini untuk bersikap, berpikir dan bertindak dengan tuntunan firman Yesus. Mengapa engkau mengandalkan manusia, yang hari ini memujimu karena kebaikanmu, tetapi segera akan mencampakkanmu setelah tidak memberi manfaat dan berguna baginya. Bukankah ini sesuatu yang kejam. Orang politik berkata: Tidak ada persahabatan abadi. Atau: Tidak ada makan siang gratis. See! Betul itu? Jangan pernah mencari pujian dan sanjungan manusia, sebab manusia gampang berubah karena sebuah kepentingan. Tetapi Tuhan selalu berkenan kepada-hambaNya yang setia kepadaNya, yang mendengarkan firmanNya dan tekun serta setia melaksanakannya. Kita diundang untuk hidup berkenan kepada Allah dan memuliakan namaNya. REFLEKSI:Apakah aku sudah menghayati imanku dengan jujur untuk menyenangkan hari Allah? MARILAH KITA BERDOA:Bapa, yang Mahabaik, hari ini Tuhan Yesus mengingatkan kami untuk tidak mencari pujian dan sanjungan manusia, tetapi untuk memuliakan namaMu. Bantulah kami untuk setia kepada Yesus dan menaati firmanNya. Demi Kristus Tuhan Pengantara kami. Amin.
Lukas 11:38-39
† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Setiap hari gereja kudus dan katolik selalu merayakan Ekaristi suci di seluruh dunia. Pada hari ini bagian liturgy Sabda menghadirkan firman Yesus dari Lukas 11:37-41. Sertelah membaca dan mencermati serta masuk dalam maksud firman ini, saya menemukan “kekesalan” Tuhan terhadap sikap seorang Farisi yang mengundangnya untuk makan di rumahnya. Orang Farisi itu mengamati Yesus, dan ia menemukan Yesus tidak melakukan kebiasaan yang hidup di dalam masyarakat mereka, bahwa orang harus cuci tangan dulu sebelum makan. Hal itu pun masih menjadi kebiasaan masyarakat masa kini, Hal yang wajar-wajar saja. Namun tidak dengan keadaan saat itu. Yesus yang mereka anggap sebagai seorang pengajar, Dia tidak mencuci tanganNya sebelum makan. “Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Kamu orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.”
Saudara-saudari terkasih,
Apakah Tuhan Yesus tidak mau disalahkan karena tidak melakukan adat kebiasaan mereka, yaitu mencuci tangan sebelum makan? Yesus tidak punya keberatan tentang hal itu, namun Yesus balik menegur mereka. “Kamu ini, bisanya ngatain orang, tapi apa yang sudah kamu lakukan?” kira-kira begitu saya menangkap teguran Yesus. Orang Farisi ini lebih senang mengunggulkan dirinya dengan penampilannya yang “bersih, kinclong dan berwibawa” dengan tampilan mereka. Mereka itu dikatakan oleh Yesus seperti sebuah cawan atau pinggan yang tampak luarnya cantik dan bersih, tetapi dalamnya “kotor dan tidak terawat”. Persis seperti mereka yang “sok suci dan ingin dihormati” orang tetapi hati mereka penuh dengan kebusukan dan kebohongan.
Saudara-saudari terkasih,
Kalau saya perhatikan perkataan Yesus hari ini, sepertinya Yesus kecewa berat dan kesal sekali. Katanya lagi, sebelum orang Farisi itu sempat berreaksi: “Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar perpuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan!” Tuhan menegaskan bahwa hidup itu perlu keseimbangan antara hak dan kewajiban. Mereka diingatkan: lakukan kewajiban keagamaanmu seperti yang diperintahkan Musa, namun tidak boleh lalai untuk menegakkan “keadilan” dan menghadirkan “Kasih Allah”. Tuhan mencintai semua orang, bukan untuk mereka saja. Belum selesai sampai di situ, Tuhan Yesus masih berkata : “Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur, yang tidak memakai tanda, orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.” Teguran Yesus ini sungguh merupakan pukulan telak, sebab apa yang mereka lakukan ternyata sia-sia; jangankan dilihat Tuhan, dilirik orang saja tidak. Mereka seperti kuburan yang tanpa pengenal, diinjak orang yang lewat dan tidak dihargai kehadirannya, sebab mereka itu telah “mengubur” dirinya dengan kemunafikan yang mereka pertontonkan, agar dianggp baik, terhormat dan suci.
Saudara-saudari terkasih,
Tuhan Yesus “tidak suka” dengan orang-orang yang suka pamer kesalehan agar mendapat penghormatan dan pujian manusia. Apakah engkau pernah mendengar firman ini: “Apa yang disukai manusia, dibenci oleh Allah!” Kita diingatkan oleh Tuhan Yesus pada hari ini untuk bersikap, berpikir dan bertindak dengan tuntunan firman Yesus. Mengapa engkau mengandalkan manusia, yang hari ini memujimu karena kebaikanmu, tetapi segera akan mencampakkanmu setelah tidak memberi manfaat dan berguna baginya. Bukankah ini sesuatu yang kejam. Orang politik berkata: Tidak ada persahabatan abadi. Atau: Tidak ada makan siang gratis. See! Betul itu? Jangan pernah mencari pujian dan sanjungan manusia, sebab manusia gampang berubah karena sebuah kepentingan. Tetapi Tuhan selalu berkenan kepada-hambaNya yang setia kepadaNya, yang mendengarkan firmanNya dan tekun serta setia melaksanakannya. Kita diundang untuk hidup berkenan kepada Allah dan memuliakan namaNya.
REFLEKSI:
Apakah aku sudah menghayati imanku dengan jujur untuk menyenangkan hari Allah?
MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, hari ini Tuhan Yesus mengingatkan kami untuk tidak mencari pujian dan sanjungan manusia, tetapi untuk memuliakan namaMu. Bantulah kami untuk setia kepada Yesus dan menaati firmanNya. Demi Kristus Tuhan Pengantara kami. Amin.