Bacaan Hari ini:
Ef.1:11-14
Mzm.33:1-2.4-5.12-13
Luk.12:1-7
“Aku akan menunjukkan kepada kamu, siapakah yang harus kamu takuti. Takutlah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya aku berkat kepadamu, takutilah Dia.”
Lukas 12:5
† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
Saudara- saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Perikop Injil Lukas bab 12:1-12 dalam pwartaan liturgy gereja dibagi menjadi bagian. Ayat 1-7, menjadi permenungan kita pada hari ini; sedangkan ayat 8-12 akan kita renungkan esok hari. Setelah membaca bagian pertama ini saya memberi judul untuk renungan kita pada hari ini “Takut Akan Allah”. Pada saat membacanya saya teringat pada dosen Alkitab Perjanjian Lama-ku, Pater Berthold Anton Parera, seorang Karmelit, yang mengajar tentang kitab Amsal. Kitab ini ditulis untuk orang-orang muda yang kurang perngalaman. Tujuannya agar mereka “mengetahui hikmat dan didikan” untuk menjadikannya pandai. (Amsal 1:1-2). Menarik bahwa “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan” (amsal 1:7a). Bagian inilah yang membawa saya mencoba memahami sabda Yesus pada hari ini. “Takutlah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka.”
Saudara-saudari terkasih,
Takutilah Tuhan, sebab Dilah yang menguasai hidup dan mati setiap makhluknya. Pemahaman seperti ini bukanlah sesuatu yang sulit dicerna oleh orang-orang yang memiliki iman dan keyakinan, sebagai orang beragama, betul? Perhatikan apa yang saya katakan berikut ini: Orang di negeri kita itu adalah orang yang “tidak memiliki rasa takut”; mereka melawan penjajah, mereka melawan ketidak adilan, mereka memperjuangkan kesejahteraan orang banyak. Sebagai umat beragama, kita juga memiliki rasa takut kepada Tuhan. Tapi mengapa perampokan, pembalakan liar, kolusi dan korupsi masih ada di bumi kita ini? Mereka itu tidak takut pada penegak hukum: polisi, jaksa maupun hakim, kalau niatan mereka belum tercapai. Jangankan takut kepada mereka, kepada TUHAN saja mereka sudah tidak peduli. Terus, siapa yang ditakuti?
Saudara-saudari terkasih,
Redaksi kitab suci memberi judul perikop ini “pengajaran khusus bagi murid-murid”, yang kurang pengetahuan dan pengalaman seperti yang dimaksud oleh kitab Amsal. Mereka diingatkan akan hal yang paling penting dan pokok yaitu bahwa “permulaan pengetahuan” adalah Takut Akan Allah. Para murid yang percaya pada Yesus dan mengikuti Dia, dihadapkan pada tantangan dan pencobaan, di mana mereka dimusuhi oleh orang-orang Yahudi, khususnya orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka dikejar-kejar, ditangkap, dianiaya dan ada yang dibunuh karena iman mereka kepada Yesus, yang telah wafat dan bangkit kembali. Mereka “tidak boleh takut” kepada mereka itu, sebab Yesus berfirman: “Aku akan menyertai kamu sampai akhir zaman”; dan bahwa mereka tidak perlu takut akan apa yang akan mereka katakan dan harus mereka pertanggung jawabkan, sebab Roh Kudus akan menggantikan mereka dan berbicara untuk meneguhkan kesaksian mereka. Setiap orang yang sudah mengikuti Yesus dan percaya kepadaNya sebagai Tuhan dan Juru selamat “tidak boleh takut” kepada mereka yang dapat membunuh badan saja; mereka harus takut kepada Tuhan yang dapat melepaskan mereka dari siksa api neraka di kehidupan mendatang. Inilah gambaran yang dikatakan Yesus: “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguh pun demikian tidak seekor pun daripadanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu “lebih berharga” daripada banyak burung pipit”.
Saudara-saudari terkasih,
Pengajaran atau katekese yang diajarkan ini meneguhkan para murid Tuhan. Banyak dari antara mereka yang siap mengorbankan nyawanya karena iman kepada Yesus. Mereka percaya betul akan firman Yesus : “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Injil dan karena Anak Manusia” mereka akan memperolehnya nyawanya kembali. Santo Stefanus, santo Petrus, santo Paulus dan banyak martir mengimani “janji Yesus” ini dan mereka tidak menyayangkan nyawa mereka. Mereka ingat akan firman Yesus: “Barangsiapa mau mengikuti Aku, ia harus memanggul salibnya, menyangkal dirinya dan mengikuti Aku.” Jadi kita tidak boleh takut terhadap ancaman manusia, tetapi harus takut kepada Dia, yang memelihara kita, sebab kita berharga di mataNya. Kalau kita memiliki rasa “takut akan Allah” maka kita mendengarkan Yesus dan taat pada perintahNya.
REFLEKSI:
Apakah aku sudah melandasi hidupku dengan “perasaan” Takut akan Tuhan?
MARILAH KITA BERDOA:
Bapa, yang Mahabaik, terimakasih untuk pengajaran Yesus pada hari ini. Sebab Ia menghendaki kami memiliki keberanian untuk bersaksi dan mengandalkan pemeliharaan Bapa untuk hari esok kami. Terpujilah NamaMu dalam Yesus KristusTuhan kami. Amin